Sabtu, 14 September 2013

Another Marketing Way from "The Joneses"


The Joneses merupakan sebuah film yang ditulis sekaligus disutradarai oleh Derrick Borte. Film ini dirilis pada tahun 2009 dengan diperankan beberapa bintang kenamaan Hollywood seperti Demi Moore, David Duchonvy, Amber Heard, dan Ben Hollingsworth. Tema dalam alur cerita film ini dapat dikatakan unik karena sang sutradara mencoba untuk menyisipkan suatu nilai yang jarang diangkat dalam konflik film pada umunya yaitu konsumerisme yang kini mulai menjangkiti banyak lapisan masyarakat.


Diceritakan, Steve Jones (David Duchonvy) merupakan sosok sempurna dimana banyak orang yang iri padanya. Ia memiliki seorang istri yang cantik, Kate Jones (Demi Moore), seorang putra, Mick (Ben Hollingsworth) dan seorang putri, Jenn (Amber Heard). Mereka terlihat sangat sempurna sebagai sebuah keluarga dan mencerminkan keluarga Amerika yang harmonis. Ditambah lagi dengan kemapanan yang Steve miliki membuat setiap orang selalu ingin menjadi seperti dirinya.

Cerita berawal ketika keluarga ini baru saja pindah di kawasan elit dengan tingkat konsumtif yang tinggi. Seluruh anggota keluarga yang mudah bersosialisasi ini tidak perlu waktu lama untuk diterima di lingkungan baru mereka. Masing - masing anggota keluarga mampu menempatkan diri mereka pada situasi di mana mereka menjadi "center" di lingkungannya dengan cara selalu menggunakan barang - barang "branded" yang banyak diidamkan. Mereka terlihat sangat mengagumkan di mata warga sekitar dengan rumah megah, perabotan mewah, serta bergaya hidup tinggi. 

Namun ternyata semua keharmonisan dan kemapanan yang ditunjukkan hanyalah sebuah peran belaka. Faktanya, The Joneses bukanlah keluarga nyata. Mereka merupakan sebuah tim marketing dari suatu perusahaan penjual berbagai macam barang penunjang gaya hidup. Kepindahan mereka ke sebuah kawasan elit ini merupakan sebuah misi pemasaran dari perusahaan tempat mereka bekerja. 
Kate Jones sebagai pimpinan tim dan berperan sebagai ibu dalam keluarga, mencoba masuk ke dalam kelompok ibu - ibu sosialita di lingkungannya yang gemar berbelanja. Kemudian Steve Jones berbaur pada komunitas golf dimana pada kelompok tersebut ia mempengaruhi teman - temannya untuk membeli barang seperti yang ia miliki, salah satunya tongkat golf dan pakaian sport produksi perusahaannya. Lalu Jenn dan Mick menjadi trend setter remaja di sekolahnya karena fashion serta gadget canggih yang mereka miliki.

Film ini terlihat menonjolkan bagaimana cara untuk meningkatkan penjualan. Dari alur cerita dapat dilihat bahwa semakin hari teknik promosi sudah semakin bervariasi dan jauh dari teknik konvensional. Teknik pemasarannya cenderung terselubung dan dikemas secara halus dalam keseharian seolah - olah mereka tidak melakukan teknik pemasaran sama sekali. Dalam "The Joneses" , teknik tersebut bertujuan untuk menjadikan The Jones's Family sebagai pusat perhatian. Pusat perhatian inilah yang dianggap masyarakat sebagai orang penting dan pada akhirnya kegiatan maupun barang yang dipakai akan dipandang baik serta dijadikan panutan.
Jika cara ini berhasil maka akan berlanjut kepada pemasaran word of mouth atau pemasaran dari mulut ke mulut yang pada akhir - akhir ini diimplementasikan dengan endorsement marketing. Produsen menggunakan opini dari figur terkenal untuk meyakinkan konsumen bahwa barang mereka memang berkualitas baik serta faktor psikologis si konsumen yang akan merasa up to date bila mengkuti tren para public figure terkemuka.

Ide - ide teknik marketing dalam "The Joneses" memang tergolong brillian. Tekanan untuk mencapai target yang diharapkan dapat tercapai mulus dengan usaha yang mereka lakukan. Namun teknik marketing The Jones Family sayangnya tidak memperhatikan etika sosial yang ada karena memasukkan unsur penipuan. Pembentukan keluarga palsu ini menimbulkan konflik pada kedua belah pihak. Konsumen diperlakukan sebagai alat pencapai tujuan namun tidak mengindahkan sisi kemanusiaan. Selain itu penipuan yang dilakukan akan memberikan citra buruk bagi barang - barang yang diperjualbelikan. 

Kemudian nilai moral yang terkandung dalam film ini yaitu :
a. Seberapapun keberhasilan yang dicapai, bila itu hasil dari kepalsuan maka percuma saja.
b. Hidup akan lebih berarti jika tidak diselimuti kepalsuan.

Jadi, hendaknya pemasaran dilakukan sesuai dengan teknik yang benar dan tidak melanggar nilai - nilai yang sudah terbentuk pada sistem sosial kemasyarakatan yang ada. Hendaknya seluruh kegiatan bisnis harus dilandasi dengan etika agar manfaat dari bisnis itu sendiri dapat dinikmati secara seimbang baik bagi produsen maupun konsumen.

Tara Winda Hapsari
Manajemen Pemasaran - BB
125020201111025